Pengendalian
diri saya terbatas waktu.
Saya
berjalan cepat, lalu berlari, sampai melompat.
Tak ada ruang untuk
beristirahat.
Saya tengok ke belakang.
Waktu semakin mengejar teramat sangat.
Saya pandang arah depan.
Para pendahulu arah nya semakin tak terlihat.
Ingin
saya hembuskan nafas sejenak.
Tapi malam semakin pekat.
Rehat.
Saya diam sejenak.
Terhimpit pekat nya kabut dengan angin menghapus jejak.
Terdiam
saya termenung.
Apa yang ingin saya dapat?
Apakah
menjadi yang ‘pertama’ saya tidak terkalahkan?
Apakah
‘terlambat’ menandakan saya tak punya kesempatan?
Apakah
saya ‘harus benar’ tidak boleh ada kegagalan?
‘cepat’
‘waktu mu habis’
‘orang lain sudah bekerja’
‘orang lain sudah menikah’
‘orang
lain sudah lulus’
‘orang lain sudah sukses’
Tersadar.
Saya terbelenggu dengan pencapaiaan seseorang.
Sampai ‘duluan’ menjadi konsep
kesuksesan seseorang.
Padahal setiap orang mempunyai waktu yang tepat mencapai
tujuan.
Berlainan langkah. Berbeda di perempat jalan. Cara menghalau rintangan.
Ada hal yang patut dipercaya.
Hal yang sudah di lakukan menjadi pengingat, bahwa yang ‘belum
menjadi apa-apa’ adalah sebuah proses keberhasilan.
Hidup
bukan keterampilan mengadu kecepatan.
Hidup
bukan sebuah perlombaan.

Komentar
Posting Komentar