Tidak memungkiri semua
orang takut akan suatu kegagalan. Ada yang bangkit setelah mengalami kegagalan.
Ada yang menyerah setelah mengalami kegagalan. Ada yang berhenti sebentar baru
mulai bangkit lagi. Semua orang punya cara berbeda-beda menghadapi suatu kegagalan.
Termasuk saya.
Dannn setelah diterima
langsung berangkat? Tidak ferguso, karena setelah daftar lalu diterima selanjutnya
kita harus bayar. Yapp, AWMUN ini tidak fully
funded dan biaya administrasi nya pun lumayan buat saya yang belum bekerja,
mengandalkan uang tabungan pun itu masih jauh dari maksimal. Untuk bisa bayar
administrasi pilihannya ada dua yaitu dibayarkan oleh orang tua atau cari uang
sendiri yaitu cari sponsor. Untuk pilihan pertama jelas itu gak mungkin banget,
sudah cukup membebani orang tua dengan biaya kuliah yang gak sedikit terus di
tambah minta bayarin konferensi ini? Big
no. Jadi setelah tahu, saya diterima untuk menjadi delegasi pada konferensi
AWMUN ini saya memperjuangkan bagaimana pun caranya saya bisa dapat sponsor. Di
sinilah perjalanan dimulai. Di tengah-tengah sedang mempersiapkan dan menjalani
magang juga, saya harus membuat proposal sponsor untuk bisa memberangkatkan
saya ke Bali. Awalnya saya gak paham bagaimana cara membuat proposal menarik
hati para jutawan untuk mau membiayai keberangkatan saya. Memang sih pihak
AWMUN memberikan proposal versi bahasa inggris tapi saya rasa saya harus membuat
kembali proposal tersebut dengan versi bahasa indonesia dan tentunya membuat
semacam bumbu-bumbu supaya perusahaan atau para billionare tertarik.
28 Januari 2020 adalah
hari yang paling membahagiakan di awal tahun yang jadi pembangkit semangat dan
mengambil langkah nyata sebagai bentuk perubahan. Hal yang patut di syukuri dan
berterima kasih kepada diri ini yang sangat amat sulit memotivasi diri untuk mencari
sesuatu di luar sana yang lebih bermanfaat. Jadi, awal Januari itu saya
diterima menjadi salah satu dari sekian banyak pendaftar menjadi delegasi untuk mengikuti konferensi terbesar di Asia yaitu Asian World Model United Nations batch
IV di Bali untuk keberangkatan Juli 2020. Wah, waktu itu rasanya super excited dan bahagia banget. Kebetulan
bulan Januari-Februari itu waktu sedang Magang 3 di salah satu SMA di Bogor.
Inget banget waktu itu super ribet, pusing, banyak pikiran, sedih, gelisah
segala macam perasaan gak enak itu benar-benar masuk ke hati dan fikiran.
Oke, let’s remember that moment waktu lagi
Magang di sekolah meski rentang waktunya hanya 1 bulan, tapi rasanya semua
pikiran dan tubuh udah dikuras habis sama Magang ini yang harus menyiapkan
RPP+bahan ajar+worksheet murid, datang ke sekolah subuh pulang sore, ngajar
untuk pertama kalinya di kelas yang beda-beda banget karakternya. Woah. Kalau
inget Januari kemarin gak nyangka banget bisa ngelewatin momen yang serba tidak
mudah. Oke saya tahu ini tak akan ada apa-apanya di banding 3 5 7 10 tahun
kemudian yang pasti beban masalahnya lebih berat. Tapiiiiiii, gak tau waktu itu
dengan segala rumit nya beban, bisa kepikiran buat daftar AWMUN ini, karena memang
dari awal gak pernah expect atau
mengidamkan bisa mengikuti konferensi besar ini.
AWMUN adalah
konferensi atau simulasi rapat PBB untuk
anak muda di seluruh Asia. Setiap orang yang diterima akan menjadi represent atau mewakili setiap negara di
seluruh dunia untuk mendiskusikan segala macam fenomena atau permasalahan yang
ada dibeberapa negara atau bahkan didunia. Pembahasannya pun dari segala macam
sektor dan council seperti Wolrd Health Organization (WHO), United Nations High Commissioner for Refugees
(UNHCR), Food and Agriculture
Organization (FAO), United Nations
Children’s Fund (UNICEF). Kebayang dong berapa banyak pengalaman,
pembelajaran, manfaat, dan relasi yang di dapat dengan lingkup seluruh dunia??
Banyak banget...
Maka dari itu segala macam cara saya cari, dari cari
orang random di instagram dengan menggunakan hashtag yang pernah ikut AWMUN
dengan maksud mau banyak tanya sampai nemu. Waktu itu saya DM udah kaya gak ada
muka aja waktu tanya tiba-tiba, terus tukeran nomor whatsapp karena kebetulan
nanya-nya banyak dan dia sabar banget buat jawab tapi ternyata dia berangkat
tidak menggunakan sponsor. Oke waktu itu saya coba cari lagi cara dengan search
proposal sponsor AWMUN dan kiat-kiat supaya proposal itu tembus perusahaan dan
itu carinya susah banget dan gak nemu, sampai ganti banyak keyword dan akhirnya nemu dan dapat proposal dalam bentuk bahasa
indonesia dari yang pernah daftar AWMUN ke Thailand. Di dalam proposal itu
super lengkap dengan segala macam prestasi dan pengalaman yang banyak banget
(waktu itu pengen nangis karena terpana sama pencapaiannya) saya berniat izin terlebih dahulu sama yang punya proposal.
Tapi sayang banget nomor yang tertera di proposal waktu itu ternyata tidak
terdaftar. Maka dari itu setelah baca proposal tersebut dan buat dengan nama
sendiri tapi dengan catatan isi-nya harus beda sama yang punya. Masalah muncul
lagi ketika saya harus print itu proposal dengan beberapa rangkap dan warna
lumayan banget kalau print sendiri bisa langsung tekor waktu itu huhu. tapi
keadaan dana tidak memadai karena habis untuk biaya print keperluan magang yang
banyak banget sampe buat nabung aja itu gak cukup. Jadilah saya nunggu Bapak
saya untuk bawa tinta dari kantor nya untuk print dirumah. Tapi sedih banget
kebetulan stock tinta waktu itu
dikantor habis sampai saya nunggu hampir 2 minggu untuk dibawain tinta
tersebut. Waktu itu Bapak kepikiran-nya anaknya minta tinta buat print lembar
proposal skripsi padahal mah bukan hahaha maaf pak.
Setelah beberapa
minggu di habiskan untuk membuat dan print proposal karena juga harus kebagi
kepikiran dengan segala macam tugas magang akhirnya jadi juga porposal atas
nama saya. Dan langkah selanjutnya adalah saya harus sebar proposal tersebut ke
berbagai perusahaan karena saya dulu pernah ikut organisasi jadi saya punya
beberapa daftar nama perusahaan untuk mengajukan sponsor. Langkah awal saya
adalah minta dana kepada universitas, fakultas dan prodi. Saya waktu itu
diskusi sama kaprodi tentang keberangkatan saya dan bermaksud untuk mengajukan
proposal sponsor dan alhamdulilah di sambut baik dan memberikan saya harapan
karena beliau mengatakan pada waktu itu “kirim saja proposalnya”.
Oke selanjutnya saya
membuat janji terlebih dahulu. Saya bertemu dengan salah satu pihak yang
berkaitan dengan keuangan di pendidikan tempat saya belajar saat ini. Waktu itu
saya di tanya oleh beliau tujuan saya ikut konferensi ini, keuntungan untuk
mereka dan keuntungan untuk saya. Sampai pada waktu itu beliau berkata “Yaiyalah
diterima dek toh acaranya kan bayar, pasti diterima semua pesertanya, untung
juga buat mereka kan?” di situ perasaan saya campur aduk gak karuan seakan-akan
apa yang sudah saya lakukan tidak ada apa-apanya dan pencapaian mahasiswa-nya
sudah sampai di titik ini adalah bukan apa-apa. Saya di situ sempat sedih dan
mulai gak percaya diri. Tapi saya mencoba menghargai apa yang beliau katakan
dan melupakan sedikit-sedikit apa yang beliau ucapkan meski kenyataannya masih
ingat sampai sekarang. Dan itu memang sempat berimbas pada kepercayaan diri
saya waktu itu. Saya gak percaya diri untuk mengajukan proposal ke perusahaan
besar sampai saya mikir “kelebihan apa yang saya punya? prestasi apa yang bisa
saya banggakan?” saya merasa ingin berhenti saja, sampai sekitar satu bulan
saya tidak melanjutkan lagi perjuangan. Memang untuk saya pribadi meningkatkan
kepercayaan diri itu tidak mudah, sulit sekali. Perlu waktu dan motivasi untuk
membangun kembali percaya diri. Mungkin itu menjadi salah satu faktor saya ‘terlambat’
dan harus berlari menjadi ‘manusia’ yaitu memahami konsep menjadi manusia
sebenarnya. Saya memerlukan keberanian yang super untuk sampai ada di posisi
ini, yang biasanya saya anti sekali dengan tantangan dan berprinsip berdiam dan
terjebak dalam zona nyaman (meski sampai saat ini).
Sampai ketika saya
ingin melanjutkan kembali perjuangan, saya terjebak di rumah tidak bisa
kemana-mana karena pandemi ini. Saya akan begitu egois bila terus melanjutkan,
di mana saya tahu di berbagai sektor sedang mengalami kebangkrutan, banyak
orang yang sedang memperjuangkan untuk bertahan hidup dan mempertahankan
kestabilan ekonomi di berbagai perusahaan. Saya pikir untuk batch kali ini saya cukupkan dan bisa
daftar kembali meski saya tidak tahu akan diterima kembali atau tidak.
Untuk itu saya
berhenti. Bukan selamanya tapi untuk sementara. saya gagal? Tentu tidak.
Perjuangan saya sia-sia? Tidak. Perjuangan saya baru akan dimulai saat ini.
Untuk teman-teman yang
membaca cerita ini, saya berterima kasih bukan karena membaca cerita saya tapi
sudah berjuang sampai saat ini dan mengingatkan akan apapun yang sudah kalian
lakukan sampai pada tahap ini. Perjuangan saya masih belum ada apa-apanya.
Sifat malas saya masih berkembang biak. Saya masih mudah menyerah. Saya masih
menggampangkan sesuatu. Banyak hal yang perlu saya perbaiki.
Saya percaya di luar
sana masih banyak perjuangan yang tidak mudah untuk di usahakan sampai
mengorbankan banyak hal. Saya hanya ingin mengatakan bahwa kalian semua hebat. Lakukan
hal baik apapun yang memberikan manfaat untuk dirimu sendiri dan orang di
sekitarmu. Kegagalan itu menjadi kunci keberhasilan, proses menuju
keberhasilan. Tak apa gagal, yang tidak boleh adalah menyerah. Hargai setiap
proses perjalananmu sampai saat ini sekecil apapun, karena itulah yang menjadi
motivasi untuk menjadi lebih kuat dan tidak menyerah.
Cukup sekian cerita
saya kali ini. Mohon maaf apabila ada kata-kata yang salah atau kurang di
mengerti. Semoga apa yang saya tulis menjadi kebaikan dan manfaat untuk kita semua.
Salam.



Tidak gagal, hanya sja tertunda. Segera bangun lagi ya. SEMNGATT Dan MAJU TERUS! Mampu smpai thap ini jga KEREN!NEXT LBIH KREN YO. EHEE...
BalasHapus