Langsung ke konten utama

Gagal? Tidak, Perjuangan Baru Dimulai

Tidak memungkiri semua orang takut akan suatu kegagalan. Ada yang bangkit setelah mengalami kegagalan. Ada yang menyerah setelah mengalami kegagalan. Ada yang berhenti sebentar baru mulai bangkit lagi. Semua orang punya cara berbeda-beda menghadapi suatu kegagalan. Termasuk saya.

28 Januari 2020 adalah hari yang paling membahagiakan di awal tahun yang jadi pembangkit semangat dan mengambil langkah nyata sebagai bentuk perubahan. Hal yang patut di syukuri dan berterima kasih kepada diri ini yang sangat amat sulit memotivasi diri untuk mencari sesuatu di luar sana yang lebih bermanfaat. Jadi, awal Januari itu saya diterima menjadi salah satu dari sekian banyak pendaftar menjadi delegasi untuk mengikuti konferensi terbesar di Asia yaitu Asian World Model United Nations batch IV di Bali untuk keberangkatan Juli 2020. Wah, waktu itu rasanya super excited dan bahagia banget. Kebetulan bulan Januari-Februari itu waktu sedang Magang 3 di salah satu SMA di Bogor. Inget banget waktu itu super ribet, pusing, banyak pikiran, sedih, gelisah segala macam perasaan gak enak itu benar-benar masuk ke hati dan fikiran.

Oke, let’s remember that moment waktu lagi Magang di sekolah meski rentang waktunya hanya 1 bulan, tapi rasanya semua pikiran dan tubuh udah dikuras habis sama Magang ini yang harus menyiapkan RPP+bahan ajar+worksheet murid, datang ke sekolah subuh pulang sore, ngajar untuk pertama kalinya di kelas yang beda-beda banget karakternya. Woah. Kalau inget Januari kemarin gak nyangka banget bisa ngelewatin momen yang serba tidak mudah. Oke saya tahu ini tak akan ada apa-apanya di banding 3 5 7 10 tahun kemudian yang pasti beban masalahnya lebih berat. Tapiiiiiii, gak tau waktu itu dengan segala rumit nya beban, bisa kepikiran buat daftar AWMUN ini, karena memang dari awal gak pernah expect atau mengidamkan bisa mengikuti konferensi besar ini.

AWMUN adalah konferensi  atau simulasi rapat PBB untuk anak muda di seluruh Asia. Setiap orang yang diterima akan menjadi represent atau mewakili setiap negara di seluruh dunia untuk mendiskusikan segala macam fenomena atau permasalahan yang ada dibeberapa negara atau bahkan didunia. Pembahasannya pun dari segala macam sektor dan council seperti Wolrd Health Organization (WHO), United Nations High Commissioner for Refugees (UNHCR), Food and Agriculture Organization (FAO), United Nations Children’s Fund (UNICEF). Kebayang dong berapa banyak pengalaman, pembelajaran, manfaat, dan relasi yang di dapat dengan lingkup seluruh dunia?? Banyak banget...

Dannn setelah diterima langsung berangkat? Tidak ferguso, karena setelah daftar lalu diterima selanjutnya kita harus bayar. Yapp, AWMUN ini tidak fully funded dan biaya administrasi nya pun lumayan buat saya yang belum bekerja, mengandalkan uang tabungan pun itu masih jauh dari maksimal. Untuk bisa bayar administrasi pilihannya ada dua yaitu dibayarkan oleh orang tua atau cari uang sendiri yaitu cari sponsor. Untuk pilihan pertama jelas itu gak mungkin banget, sudah cukup membebani orang tua dengan biaya kuliah yang gak sedikit terus di tambah minta bayarin konferensi ini? Big no. Jadi setelah tahu, saya diterima untuk menjadi delegasi pada konferensi AWMUN ini saya memperjuangkan bagaimana pun caranya saya bisa dapat sponsor. Di sinilah perjalanan dimulai. Di tengah-tengah sedang mempersiapkan dan menjalani magang juga, saya harus membuat proposal sponsor untuk bisa memberangkatkan saya ke Bali. Awalnya saya gak paham bagaimana cara membuat proposal menarik hati para jutawan untuk mau membiayai keberangkatan saya. Memang sih pihak AWMUN memberikan proposal versi bahasa inggris tapi saya rasa saya harus membuat kembali proposal tersebut dengan versi bahasa indonesia dan tentunya membuat semacam bumbu-bumbu supaya perusahaan atau para billionare tertarik.

Maka dari itu segala macam cara saya cari, dari cari orang random di instagram dengan menggunakan hashtag yang pernah ikut AWMUN dengan maksud mau banyak tanya sampai nemu. Waktu itu saya DM udah kaya gak ada muka aja waktu tanya tiba-tiba, terus tukeran nomor whatsapp karena kebetulan nanya-nya banyak dan dia sabar banget buat jawab tapi ternyata dia berangkat tidak menggunakan sponsor. Oke waktu itu saya coba cari lagi cara dengan search proposal sponsor AWMUN dan kiat-kiat supaya proposal itu tembus perusahaan dan itu carinya susah banget dan gak nemu, sampai ganti banyak keyword dan akhirnya nemu dan dapat proposal dalam bentuk bahasa indonesia dari yang pernah daftar AWMUN ke Thailand. Di dalam proposal itu super lengkap dengan segala macam prestasi dan pengalaman yang banyak banget (waktu itu pengen nangis karena terpana sama pencapaiannya) saya berniat izin terlebih dahulu sama yang punya proposal. Tapi sayang banget nomor yang tertera di proposal waktu itu ternyata tidak terdaftar. Maka dari itu setelah baca proposal tersebut dan buat dengan nama sendiri tapi dengan catatan isi-nya harus beda sama yang punya. Masalah muncul lagi ketika saya harus print itu proposal dengan beberapa rangkap dan warna lumayan banget kalau print sendiri bisa langsung tekor waktu itu huhu. tapi keadaan dana tidak memadai karena habis untuk biaya print keperluan magang yang banyak banget sampe buat nabung aja itu gak cukup. Jadilah saya nunggu Bapak saya untuk bawa tinta dari kantor nya untuk print dirumah. Tapi sedih banget kebetulan stock tinta waktu itu dikantor habis sampai saya nunggu hampir 2 minggu untuk dibawain tinta tersebut. Waktu itu Bapak kepikiran-nya anaknya minta tinta buat print lembar proposal skripsi padahal mah bukan hahaha maaf pak.

Setelah beberapa minggu di habiskan untuk membuat dan print proposal karena juga harus kebagi kepikiran dengan segala macam tugas magang akhirnya jadi juga porposal atas nama saya. Dan langkah selanjutnya adalah saya harus sebar proposal tersebut ke berbagai perusahaan karena saya dulu pernah ikut organisasi jadi saya punya beberapa daftar nama perusahaan untuk mengajukan sponsor. Langkah awal saya adalah minta dana kepada universitas, fakultas dan prodi. Saya waktu itu diskusi sama kaprodi tentang keberangkatan saya dan bermaksud untuk mengajukan proposal sponsor dan alhamdulilah di sambut baik dan memberikan saya harapan karena beliau mengatakan pada waktu itu “kirim saja proposalnya”.

Oke selanjutnya saya membuat janji terlebih dahulu. Saya bertemu dengan salah satu pihak yang berkaitan dengan keuangan di pendidikan tempat saya belajar saat ini. Waktu itu saya di tanya oleh beliau tujuan saya ikut konferensi ini, keuntungan untuk mereka dan keuntungan untuk saya. Sampai pada waktu itu beliau berkata “Yaiyalah diterima dek toh acaranya kan bayar, pasti diterima semua pesertanya, untung juga buat mereka kan?” di situ perasaan saya campur aduk gak karuan seakan-akan apa yang sudah saya lakukan tidak ada apa-apanya dan pencapaian mahasiswa-nya sudah sampai di titik ini adalah bukan apa-apa. Saya di situ sempat sedih dan mulai gak percaya diri. Tapi saya mencoba menghargai apa yang beliau katakan dan melupakan sedikit-sedikit apa yang beliau ucapkan meski kenyataannya masih ingat sampai sekarang. Dan itu memang sempat berimbas pada kepercayaan diri saya waktu itu. Saya gak percaya diri untuk mengajukan proposal ke perusahaan besar sampai saya mikir “kelebihan apa yang saya punya? prestasi apa yang bisa saya banggakan?” saya merasa ingin berhenti saja, sampai sekitar satu bulan saya tidak melanjutkan lagi perjuangan. Memang untuk saya pribadi meningkatkan kepercayaan diri itu tidak mudah, sulit sekali. Perlu waktu dan motivasi untuk membangun kembali percaya diri. Mungkin itu menjadi salah satu faktor saya ‘terlambat’ dan harus berlari menjadi ‘manusia’ yaitu memahami konsep menjadi manusia sebenarnya. Saya memerlukan keberanian yang super untuk sampai ada di posisi ini, yang biasanya saya anti sekali dengan tantangan dan berprinsip berdiam dan terjebak dalam zona nyaman (meski sampai saat ini).

Sampai ketika saya ingin melanjutkan kembali perjuangan, saya terjebak di rumah tidak bisa kemana-mana karena pandemi ini. Saya akan begitu egois bila terus melanjutkan, di mana saya tahu di berbagai sektor sedang mengalami kebangkrutan, banyak orang yang sedang memperjuangkan untuk bertahan hidup dan mempertahankan kestabilan ekonomi di berbagai perusahaan. Saya pikir untuk batch kali ini saya cukupkan dan bisa daftar kembali meski saya tidak tahu akan diterima kembali atau tidak.

Untuk itu saya berhenti. Bukan selamanya tapi untuk sementara. saya gagal? Tentu tidak. Perjuangan saya sia-sia? Tidak. Perjuangan saya baru akan dimulai saat ini.

Untuk teman-teman yang membaca cerita ini, saya berterima kasih bukan karena membaca cerita saya tapi sudah berjuang sampai saat ini dan mengingatkan akan apapun yang sudah kalian lakukan sampai pada tahap ini. Perjuangan saya masih belum ada apa-apanya. Sifat malas saya masih berkembang biak. Saya masih mudah menyerah. Saya masih menggampangkan sesuatu. Banyak hal yang perlu saya perbaiki.

Saya percaya di luar sana masih banyak perjuangan yang tidak mudah untuk di usahakan sampai mengorbankan banyak hal. Saya hanya ingin mengatakan bahwa kalian semua hebat. Lakukan hal baik apapun yang memberikan manfaat untuk dirimu sendiri dan orang di sekitarmu. Kegagalan itu menjadi kunci keberhasilan, proses menuju keberhasilan. Tak apa gagal, yang tidak boleh adalah menyerah. Hargai setiap proses perjalananmu sampai saat ini sekecil apapun, karena itulah yang menjadi motivasi untuk menjadi lebih kuat dan tidak menyerah.

Cukup sekian cerita saya kali ini. Mohon maaf apabila ada kata-kata yang salah atau kurang di mengerti. Semoga apa yang saya tulis menjadi kebaikan dan manfaat untuk kita semua. Salam.

Komentar

  1. Tidak gagal, hanya sja tertunda. Segera bangun lagi ya. SEMNGATT Dan MAJU TERUS! Mampu smpai thap ini jga KEREN!NEXT LBIH KREN YO. EHEE...

    BalasHapus

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

Perihal Tumbuh dan Berkembang

Pengendalian diri saya terbatas waktu. Saya berjalan cepat, lalu berlari, sampai melompat.  Tak ada ruang untuk beristirahat.  Saya tengok ke belakang.  Waktu semakin mengejar teramat sangat.  Saya pandang arah depan.  Para pendahulu arah nya semakin tak terlihat.  Ingin saya hembuskan nafas sejenak.  Tapi malam semakin pekat. Rehat.  Saya diam sejenak.  Terhimpit pekat nya kabut dengan angin menghapus jejak. Terdiam saya termenung.  Apa yang ingin saya dapat? Apakah menjadi yang ‘pertama’ saya tidak terkalahkan? Apakah ‘terlambat’ menandakan saya tak punya kesempatan? Apakah saya ‘harus benar’ tidak boleh ada kegagalan? ‘cepat’  ‘waktu mu habis’  ‘orang lain sudah bekerja’  ‘orang lain sudah menikah’  ‘orang lain sudah lulus’  ‘orang lain sudah sukses’ Tersadar.  Saya terbelenggu dengan pencapaiaan seseorang.  Sampai ‘duluan’ menjadi konse...

2020 - You are too much /It's all about us/

Tak terkira sepanjang tahun 2020 begitu berlebihan dalam segala hal entah peristiwa atau perasaan. Kita merasa melakukan banyak hal tapi belum nyata memberikan hasil.  Kita merasa memikirkan begitu banyak hal tapi belum kunjung menyelesaikan sesuatu.  Kita merasa sudah berusaha bangkit tapi belum kunjung bergairah untuk berjalan atau berlari.  Kita merasa begitu kuat tapi belum membuat pribadi lebih baik dalam menghadapi persoalan. Tahun 2020 begitu banyak menguras batin. Ada janji yang tak dapat di tepati, ada temu yang tak kunjung terjadi, ada target yang tak terpenuhi, ada kehilangan yang terus menyayat hati, tetapi akan selalu ada harapan yang tak pernah hilang sampai kapanpun dalam keadaan apapun. Kita semua tahu bahwa apa yang menjadikan ‘berarti’ bukan hanya tujuan yang ditetapkan tetapi perjalanan sampai akhir yang harus di lalui. Ketika kita tetap tegak berjalan walaupun setiap rintangan mengahadang menghalangi langkah.  Sometimes you have to stop being scar...